Pada suatu masa di dalam kantor yang runyam saya merindukan bandung. Dengan yahoo messenger saya membagikan kerinduan saya akan bandung bersama teman saya, sebut saja namanya bunga. Si bunga bilang kalau dia mau ke bandung soalnya mau menyusup ke acara wisudaan. Dan tiba tiba saya berpikir, gimana kalo saya menyusup ke wisudaan juga?Kayaknya seru. Selanjutnya saya dan bunga pun janjian untuk menyusup ke acara wisudaan bareng.

Karena semuanya bersifat impulsive, saya pun langsung menelepon temen saya dibandung, sebut saja namanya hanoman. Saya memerintahkan kepadanya untuk menyiapkan ranjang, peralatan mandi, cemilan beserta pijitan karena saya mau berweekend di kamar kost dia. Dia menyanggupi semua permintaan saya which is sudah seharusnya. Lalu saya pun ngabur sebentar ke tempat adik eyang saya (waktu itu saya masih tinggal di sana) untuk mengambil baju2 dkk, jadi nanti saya bisa berangkat langsung ke gambir. Hal itu saya lakukan karena kalau saya nunggu lonceng pulang berbunyi dan ke tempat adek eyang saya, yang ada saya akan ditinggalkan kereta api.

.

Singkat cerita, kami semua sampai di bandung. Saya numpang taksi teman saya yang pergi ke daerah yang sama dengan kostan temen saya, si hanoman (benalu 100% saya yak). Di kostan hanoman, saya menerima hak saya sebagai teman hanoman yaitu mendapat pijitan.

Paginya, terjadi sedikit clash antara saya dan hanoman karena dia melalaikan kewajiban dia untuk mijitin saya dan memilih untuk bermain game online (FYI, dia memiliki kewajiban mijitin saya 3 kali sehari, yaitu waktu pagi, siang dan malam). Dengan hati dongkol saya pergi ke tukang cukur, karena kadang-kadang tukang cukur mijitin pelanggannya juga. Selesai dari sana saya ke sabuga, karena saya udah janjian sama si bunga buat menyusup ke acara wisudaan.

Sampai di sabuga, saya pun takjub melihat dandanan bunga yang seperti ibu-ibu habis pulang dari ke arisan haji. Senyumannya bagaikan senyuman ibu-ibu haji yang menang arisan. Tatapan mata sumringahnya bagaikan tatapan mata ibu2 haji yang gak jadi ketempatan arisan untuk arisan berikutnya.

Sementara bunga juga gak kalah takjub ngelihat saya dengan celana jeans, t shirt, tas besar, topi serta sandal jepit.

Tapi dia lalu tersenyum dan bilang, “ahahaha, lucu lucu.”lalu kami pun masuk ke sabuga lewat pintu belakang. Bunga bilang ke penjaganya kalo kita mau ke klub mahasiswa yang suka nyanyi nyanyi gitu ke penjaganya.

Si bunga memang suka menyanyi, dan dia terbiasa menyanyi pas wisudaan waktu kuliah dulu, bersama teman temannya. Jadi bisa jadi si penjaga juga sudah lumayan familiar dengan bunga.

Lalu si bunga ketemu sama teman temannya yang sama sama doyan nyanyi di backstage, haha hihi sebentar. Saya sangka kami berdua akan di situ selama wisuda. Ternyata saya salah. Tak berapa lama bunga masuk ke ruangan wisuda.

Kejadian itu begitu cepat dan saya hanya bisa mengikuti dia.

Dengan cueknya bunga duduk di kursi terdepan yang diperuntukan bagi para undangan. Saya pun duduk di sebelahnya. Lalu saya berbisik,”hah, kita beneran masuk ke ruang wisudaan?”

“iya, kan sesuai rencana kita menyusup ke acara wisuda.”

“hah, tapi saya pake jeans sama sandal jepit gini.”

“iyaaaa, saya juga heran kenapa kamu pake sandal jepit sama kaos gitu.”

“saya kira kita cuma bakal di belakang panggung ketawa ketawa haha hihi gitu.”

“loo, kan tujuan kita ke sini menyusup ke acara wisuda, bukan ke belakang panggung. Udah ga apa apa, cuek aja lagi. Ga bakal ada yang merhatiin.”

Nggak ada yang merhatiin? Sementara tukang foto dan tukang rekam video beredar di mana-mana. Saya langsung ngerasa nggak nyaman. Gimana kalo saya diseret keluar karena berbusana tidak selayaknya di sebuah acara wisuda yang sakral dan megah ini.

Yang saya lakukan kemudian adalah menurunkan tas besar serba guna saya ke lantai untuk menutupi sandal jepit yang saya pakai. Tas serbaguna yang kalo hujan bisa jadi payung, dan kalo ke tanah lapang bisa jadi tiker. Sekarang berfungsi pula sebagai alat penutup sandal.

Lalu prosesi wisuda dimulai. Saya paling bête saat MC bilang, hadirin dipersilakan berdiri karena saat itu akan terlihat betapa tingginya saya. Saat itu saya tidak ingin terlihat mencolok dan menarik perhatian.Tapi sikap bunga yang santai dan cuek sedikit menenangkan saya.

Akhirnya sepanjang wisudaan saya sibuk mengobrol dan mengomentari segala hal.

“kenapa sih kalo anak2 psm nyanyi tampangnya jadi keliatan aneh gitu?”

“kenapa rektor pas salaman ——sensor—–?”

“eh, kamu liat deh wisudawan yang duduk di baris 4 deket yang gendut, dia itu kak XYZV bukan sih? Baru lulus sekarang ya? Berarti dia lulus 7 tahun gitu ya? Ada ya mahasiswa yang lulusnya lama gitu?”

Dan kita berdua cekikikan dengan ga tau dirinya. Mengomentari segala hal yang terlihat lucu, ganjil sampai yang biasa biasa saja.

Lalu kemudian wakil mahasiswa dipanggil ke depan untuk berpidato. Mahasiswa yang dipanggil adalah seorang wisudawan s2 dari jurusan lupa dan namanya pun saya lupa. Yang saya inget adalah kesupernarsisan wisudawan tersebut yang sibuk menceritakan kisah hidupnya dan prestasi-prestasinya.

Saya berhasil memperoleh…
Penghargaan yang saya terima…
Pada waktu saya ke Negara….
Penelitian saya mendapat pujian….

“bung(panggilan saya ke bunga), ITB itu menunjuk wakil wisudawan buat pidato ke depan itu atas dasar pertimbangan apa sih?”

“prestasi mungkin, kayak IPK gitu gitu.”

“tapi dia lulusan S2 loh.”

“terus?”

“ya kan dapet IPK 4.00 di s2 gampang.” Saya berkata dengan sotoynya

“hah, masa sih.”

“iya, makanya syarat cumlaudenya beda.Jadinya kalo dipilih berdasarkan IPK tertinggi ga adil sama yang S1nya”

“ooo gitu ya. Ga tau ya.

“Tapi saya yakin sih kalo yang ngomong di depan IPKnya gak 4.”

“hah, kok kamu bisa yakin.”

“kalo ipknya 4 pasti dia sebutin berkali kali,”

“ahahahahaha, iya bener juga. Eh, bisa jadi ITB milih yang paling wakilin institusi. ITB kan narsis, jadi dipilih wakil wisudawan yang narsis juga.”

“ jadi ada test kenarsisan buat para wisudawan sebelum wisuda ya, ahahahaha.eh, tapi kita dulu kok nggak.”

“kita kan rendah hati brow.”

“hahahaha, woi, bilang bilang kita rendah hati artinya kita narsis juga kaleee.”

“iyaaa, kita rendah hati dalam kenarsisan kita ,hihihihi.”

Si bunga melanjutkan,

“brow, gimana kalo kita tepuk tangan setiap si wakil wisudawan menyebut prestasinya?”

“kalo saya lagi ga pake sandal jepit sih saya setuju setuju aja sih bung.”

Si bunga terkikik.

Akhirnya si wakil wisudawan menyudahi kenarsisasannya dan saya serta bunga bertepuk tangan dengan penuh semangat. Prosesi wisudaan pun dilanjutkan, sementara saya dan bunga jadi sedikit lebih tenang, karena capek juga ketawa ketiwi dari tadi.

Setelah beberapa prosesi berikutnya, wisudaan pun selesai dan saya merasa lebih lega karena ruangan wisudaan jadi lebih kacau dan penuh orang-orang sehingga kekhawatiran saya bakal diseret keluar dari ruang wisuda pun sirna. Saya pun menyelamati para wisudawan  teman seangkatan saya  yang sedang merayakan saat saat-saat gemilangnya.

“eeeh, selamat ya akhirnya bisa diwisuda juga. Saya? Saya udah sih tahun kemarin.”

Sementara bunga sibuk bercipika cipiki dengan teman temannya yang juga lulus. Saya sibuk mikir, kenapa kalo cewek cipika cipiki dengan teman ceweknya keliatan biasa aja, sementara kalo cowok cipika cipiki sama temen cowoknya kelihatan begitu janggal? Cowok kan butuh emansipasi, hehehehe.

Petualangan saya menyusup ke wisudaan pun selesai. Kenangan saya akan sabuga pun bertambah. Sabuga yang dulunya tempat pelantikan mahasiswa baru, tempat saya jadi EO acara pagelaran Jazz dan tempat saya diwisuda, sekarang bertambah menjadi tempat saya menyusup. Saya pribadi kurang tertarik untuk menyusup ke wisudaan lagi. Karena prosesi wisuda di mana mana ya gitu gitu doang. Tapi setidaknya saya bisa merasakan wisuda tidak sebagai wisudawan tetapi sebagai spectacor (bahasa kerennya).

Salah satu hal favorit yang saya sukai waktu kecil (sebenarnya sampai sekarang sih) adalah menghadiri acara kondangan. Tapi harus diakui kalau saya agak snobbish dalam hal ini. Walaupun kesnobbishan saya lebih didasari oleh hal yang cukup rasional dan bukan karena saya rasis atau diskriminatif.

Waktu kecil, kalau ada kondangan di luar kota, saya akan bertanya kepada ibu saya. Pestanya di mana dan siapa yang mengadakan. Informasi yang saya dapatkan terkait tentang hal itu akan menentukan apakah saya akan menghadiri kondangan tersebut atau tidak. Kalau kondangannya di gedung mewah maka saya akan menghadirinya. Kalau tidak, maka saya akan memilih untuk tetap di cirebon. Alasan saya menanyakan hal itu bukan karena gengsi atau yang lainnya. Tetapi karena terdapat postulat yang menyatakan bahwa kemewahan suatu gedung berbanding lurus dengan kualitas katering yang ada. Pendek kata, saya tidak akan mau jauh jauh dari cirebon ke jakarta hanya untuk sekedar menyantap sate atau mie goreng. Sombong? tidak juga. Saya hanya seorang anak kecil biasa yang suka makan enak, hehehehe.

Pada suatu hari, waktu saya masih kelas 2 SMP, pakde saya menikahkan anaknya di Jakarta. Pakde saya adalah seorang pejabat penting zaman orde baru, dan beliau mengundang para artis, pengusaha sampai dengan pejabat seperti mentri dan wakil presiden. Pestanya diselenggarakan di suatu gedung mewah di kawasan gatot subroto. Pakde saya tidak menyewa satu gedung, melainkan 2 gedung dijadikan satu. Dan harga sewa satu gedungnya sangat mahal. Zaman sekarang biaya sewa satu gedungnya adalah ratusan juta rupiah per harinya.

Tentu saja saya sangat antusias menghadiri perhelatan akbar tersebut. Saya membayangkan pelbagai jenis makanan eropa yang saya bisa santap sepuas puasnya, dengan jumlah stand yang mencapai puluhan yang akan saya jelajahi tanpa henti. Sehingga dengan penuh keikhlasan saya menghadiri acara kondangan tersebut.

Sebagaimana pesta pernikahan lain pada umumnya, terdapat 2 waktu berbeda untuk menikmati santapan all you can eat tersebut. Hal inilah yang menempatkan kondangan pernikahan dalam derajat tertinggi dibandingkan dengan kondangan sunatan atau ulang tahun. Yang pertama adalah saat akad nikah di pagi harinya, sementara yang kedua adalah saat resepsi di malam harinya. Biasanya saat resepsi, tingkat kemewahan makanan yang ada jauh di atas kemewahan makanan saat akad nikah. Karena pada saat resepsilah para tamu undangan yang berwujud pejabat, pengusaha dan artis-artis akan datang. Namun ternyata, kualitas dan kuantitas makanan saat akad nikah membuat saya berdecak kagum. Benar-benar mewah, berlimpah dan seakan tak ada habisnya. Kalau saat akad nikah saja makanannya sudah semewah ini, bagaimana nanti saat resepsinya. Saya membayangkan saat resepsi saya akan tersenyum-senyum manja di depan stand-stand yang berisi peking duck, chicken muamba, lobster, butter garlic crab, ohmi-gyu beef steak, dan banyak lagi. Dan tentunya, sesuai prinsip saya yang saya ungkapkan dalam tips dan trick kondangan, saya tidak akan makan nasi. Makruh hukumnya mengenyangkan diri dengan nasi saat kondangan.

Ternyata, sebelum resepsi, saya diwajibkan mengenakan beskap dan blangkon. Saya sendiri tidak terlalu suka mengenakan pakaian yang ribet, tapi selama hal itu tidak menghalangi saya untuk makan sepuasnya, tidak apalah. Sebenarnya saya nyaris tidak mengenakan seragam tersebut karena ketinggian saya yang membuat kaki saya besar sehingga selopnya nyaris tidak ada yang muat. Namun saya memaksakan diri mengenakan selop yang agak lebih kecil dari ukuran kaki saya yang sebenarnya. Saya rasa, tidak apa-apa, toh tumit saya masih bisa menyembul di belakang selop. Mengikuti aturan main kan tidak ada salahnya. Namun ternyata saya salah besar. Sebelum acara dimulai, saya mengalami kejadian tidak enak yang menghancurkan kebahagiaan saya malam itu.

Saya didaulat untuk menjadi penerima tamu!!, dan saya baru mengetahui kenyataan itu beberapa menit sebelum acara resepsi pernikahan dimulai. Saya tidak mengetahui mengapa pakde saya memilih saya menjadi salah seorang penerima tamu. Saya memang tinggi, langsing, ganteng dan (hampir) selalu menjadi juara kelas tapi hal itu kan bukan berarti saya pantas dan cocok  menjabat menjadi penerima tamu. Jabatan sebagai penjaga stand makanan saya rasa lebih cocok dengan resume yang saya miliki saat itu. Atau paling tidak, sebagai pembawa buku tamu spesial untuk para menteri dan wakil presiden.

Jarak saya sebagai penerima tamu dengan stand makanan terdekat literally sekitar 30 meter. Dengan lokasi WC yang berlawanan arah dengan arah makanan. Sehingga trick pura pura kebelet agar bisa minta izin ke WC padahal ke stand tidak bisa dilakukan. Sementara setiap tim penerima tamu sudah ada tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Ada yang menyerahkan pulpen kepada tamu, ada yang menyiapkan buku untuk ditandatangani, dan ada yang kebagian menyerahkan souvenir. Saya sendiri kebagian tugas sebagai pria pemberi souvenir.

Kalaupun saya melarikan diri dari sana, maka kajadian tersebut akan direkam oleh handycam dan para juru foto yang merekam dan memfoto setiap tamu yang datang. Apalagi kalau yang datang tamu penting. Saya tidak ingin pakde saya memblacklist saya dan tidak mengundang saya di acara pesta pernikahan berikutnya karena masih ada 2 anak lagi dari pakde saya yang belum menikah. Dan saya rasa, saat mereka menikah, pakde saya masih jadi pejabat dan masih kaya which means, resepsi pernikahannya juga nggak kalah megahnya dengan yang sekarang.

Saya tidak bisa merasakan kebanggaan yang dialami para penerima tamu lainnya. Mereka bangga karena banyak kebagian foto bersama para pejabat dan artis. Saya tidak. Saya bukan orang seperti itu. Apalah artinya kebanggaan jika saya kelaparan. Saya kelaparan padahal puluhan meter dari tempat saya berada ada puluhan makanan enak berkualitas yang jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh suatu siksaan yang tak tertahankan.

Saat acara resepsi dinyatakan usai, yang berarti tidak ada lagi tamu yang datang, saya menghambur ke tempat di mana stand stand makanan berada. Dengan mata nanar saya menatap stand stand kosong yang sudah dibersihkan oleh para petugas katering. Masih ada makanan sih. Tapi, bukan sebentuk makanan yang istimewa. Terus terang saya jadi sangat sedih dan kehilangan nafsu makan demi melihat makanan yang tersisa.

Semenjak saat itu, saya selalu memastikan kalau saya tidak menjadi penerima tamu jika ada kondangan lagi. Atau menjabat menjadi hal hal lain yang menghalangi saya dari stand stand makanan. Saya pun berdoa agar saya semakin tinggi dan kaki saya membesar sehingga saya bisa beralasan untuk tidak mengenakan seragam beskap jawa karena selopnya tidak ada yang muat. Lalu, saya pun bisa mengenakan baju batik biasa dan menjelajahi setiap stand yang ada dengan penuh rasa bahagia.

Pada zaman kereta api masih amburadul, isi dari sebuah gerbong ekonomi bisa berupa 224 penumpang, 12 pedagang asongan, 3 kambing dan 8 ayam. Dilengkapi dengan  petugas restorasi yang mondar mandir menawarkan makanan tapi tidak dianggap karena penumpang lebih suka membeli dari asongan yang lebih murah dan variatif. Tidak mendapatkan tempat duduk adalah sebuah siksaan yang naudzubillah karena kita akan mendapatkan tekanan dari kiri kanan atas bawah selama berjam-jam dengan pelbagai reaksi kimia yang termakhtub di dalamnya. Sementara cara untuk mendapatkan tempat duduk adalah dengan memesan sebelumnya melalui sebuah antrian yang “ular naga panjangnya bukan kepalang”. Namun itu juga bukan jaminan kalau tiket berisi nomor tempat duduk yang diidam-idamkan akan diperoleh. Bisa jadi kita kehabisan tiket karena sebagian dari tiket berisi nomer tempat duduk tadi tidak di jual di loket tapi di calo. Dan harga di calo bisa 1,5 sampai 3 kali lipat lebih mahal terutama di musim liburan panjang atau liburan karena ada tanggal hitam di antara tanggal merah. Sehingga yaa, kita harus menerima kenyataan untuk menjadi sesuatu yang terhimpit dan ternistakan saat naik kereta api nanti.

Dan hal itu membuat saya jengkel. Sebagai orang males yang ogah ngantri panjang-panjang tapi di saat yang sama juga ogah berdiri, saya berpikir kalo seharusnya ada celah agar saya ga ngantri tapi tetep dapet tiket tempat duduk. Walaupun ya harus disesuaikan dengan kenyamanan gue sendiri.  Dan dari situlah penelitian ini dimulai.

Dimulai dari calo. Sebenernya apakah ada jaminan seorang calo berhasil menjual semua tiketnya? Nggak ada. Selalu ada chance kalo seorang calo gagal menjual beberapa tiket yang dimilikinya. Dan apa yang dia lakukan? Menanggung kerugian? Atau…mengembalikannya ke loket untuk kembali dijual?

Para penggemar teori konspirasi akan bersorak kalau mengetahui bahwa terjadi konspirasi antara mbak mbak penjual tiket dengan calo. Seorang calo tidak mau mengambil resiko terlalu besar dengan kegagalan penjualan tiket yang akan menggerus keuntungan yang diperolehnya. Sehingga dia akan bekerja sama dengan orang dalam. Hal ini juga meniadakan keharusan sang calo untuk berada dalam suatu antrian panjang yang mendebarkan. Dia bisa meminta kepada si mbak untuk menyediakan tiket sebanyak, 40 misalnya. Pembagian Keuntungan akan dilakukan sesuai perjanjian sebelumnya.

Tentu kita tidak boleh terlalu kecewa dengan kenyataaan bahwa  mbak-mbak manis penjual tiket ternyata berakhlak buruk. Itulah kehidupan. Sekarang mari kita analisis kapankah seorang calo mengembalikan tiketnya kepada si mbak? Gue rasa penjualan tiket terkomputerisasi jadi kalau didapati kenyataan bahwa total uang yang diperoleh lebih kecil daripada total tiket yang terjual tentu akan merugikan reputasi si mbak di mata atasannya. Sehingga seorang calo akan mengembalikannya beberapa saat sebelum kereta berangkat. Berapa lama? Tergantung waktu tempuh antara loket dengan kereta api. Jadi walaupun si mbak sebelumnya bilang kalo tiket yang ada tinggal yang berdiri kita semua tinggal bilang, “wah kalo gitu ga jadi deh mbak.” Tapi abis itu jangan ngeloyor pergi. Kita tetep aja di situ sembari mempersilakan pembeli tiket selanjutnya. Kalo si mbak heran kenapa kita malah bersemayam di situ,  ya kita cuek aja. Syukur syukur kita bisa bikin mbaknya geer. Membuat orang geer kan berpahala, betul ga ?:p

Biarlah si mbak ter geer geer, karena semua itu tidaklah penting. Beberapa saat sebelum kereta berangkat, si mbak akan dengan malu-malu kucing bilang, kalo tiket dengan tempat duduk masih ada. Dan kita tinggal membelinya. Jadi belilah tiket tersebut dengan PD!!. Dan jangan lupa berlari secepatnya ke keretanya.

Trik seperti ini bahkan lebih mudah dilakukan untuk kereta parahyangan yang keberangkatannya terjadi beberapa jam sekali. Biasanya untuk penjualan karcis tanpa tempat duduk, tidak perlu mengantri. Sehingga kita bisa langsung ke loket. Contohnya ada kereta untuk jam 5 dan jam 7. saat itu pukul 16.30. Kalo kita ingin naik kereta jam 7 dan ingin dapet tempat duduk, kita bisa mengantri. Sementara kalo kita ingin naik kereta jam 5 dan ga apa apa berdiri juga, kita bisa langsung ke loket. Jadi, kalo kita ingin naik kereta jam 5 tapi dengan tempat duduk, kita bisa langsung ke loket sembari menunggu si mbak menelurkan tiket jam 5 yang bertempat duduk.

Lalu bagaimana kalau sampai 8 menit sebelum kereta berangkat si mbak masih dengan tampang polos tanpa dosa tidak menjual tiket bertempat duduk? Yang bisa kita lakukan adalah membeli tiket berdiri dan berlari ke peron. Selidiki gerbong yang orangnya sedikit. Sisir satu persatu gerbong dan jangan menyerah. Gerak cepat harus dilakukan. Apa pasal? Well ketika seorang calo memiliki tiket, dipastikan nomernya berurutan di satu gerbong. Kenapa? Ya kan biar jaga-jaga kalau yang beli berupa gerombolan manusia yang saling berteman. Kan nggak mungkin dia jual tiket yang satu di gerbong 1 belakang, yang satu lagi di gerbong 2 depan dengan kursi selang seling. Sebagai calo dia ingin memberikan pelayanan terbaik bagi pembeli yang bisa jadi berbentuk rombongan. Kalo yang beli perorangan? Ya kan nggak masalah juga. Jadi kalo kita beli dari calo kemungkinan orang2 yang duduk di kursi yang dekat dengan kita juga beli dari calo.

Kalau calonya gagal menjual beberapa tiket tetapi tidak mengembalikannya ke mbak-mbak penjaga loket (karena tidak melakukan perjanjian kerja sama sebelumnya), berarti ada satu gerbong yang kursi kosongnya lumayan banyak sehingga mengakibatkan kepadatan penumpang berkurang di gerbong tersebut.
Simple kan.

Terus gimana kalo sampai saat terakhir loe masih belum dapet tempat duduk? Kita cari kenalan kita di kereta. Kalo ketemu, langsung SKSD dan dengan ekspresi memelas kita memohon biar bisa duduk bertiga di dua kursi yang ada. Kalo masih ga dapet juga? Ya nggak apa apa berdiri, itung2 petualangan. Berdiri sambil mengamati tingkah laku manusia di dalam gerbong mengasyikkan juga kok.Asal jangan jadi kebiasaan aja.

kai

ayam ayam, mijon mijon teh botol..

Namun kini, semua itu tak mungkin terjadi lagi. Pelayanan kereta api sudah sangat membaik walaupun harga tiketnya juga semakin memahal. Tidak perlu lagi mengantri di loket karena kita tinggal membuka website dan memesan tiket dari sana. Metode ini juga membuat kita terpaksa hafal nomor KTP kita sendiri.

Apakah saya merindukan saat saat amburadul kereta api dulu? Mungkin juga sih. Tapi sejujurnya saya sekarang mulai mengerti mengapa turis turis bule backpacker dulu hobi banget berjejalan di dalam kereta api ekonomi. Karena secara mereka turis dari luar negeri, mereka pasti bisa memesan tiket kelas eksekutif dan duduk manis di sebuah gerbong berAC. Tetapi mungkin, mereka ke Indonesia tidak mencari keteraturan. Karena keteraturan adalah suatu hal yang lazim mereka temui di negeri mereka sendiri. Mereka mencari kesemrawutan. Berada dalam situasi chaos adalah sebuah pengalaman baru buat mereka. Dan bisa jadi mereka menemukan keindahan dalam kesemrawutan.

Sebagai warga bumi yang baik hatinya, saya suka membaca-baca tentang kultur dan kebudayaan bangsa lain. Hal-hal yang unik terkait dengan tingkah laku mereka, serta norma norma umum yang bisa jadi dianggap biasa oleh mereka tetapi dianggap aneh oleh kita, bangsa Indonesia yang budiman. Lalu saya pun mencoba untuk mengetahui bagaimana sih sebenarnya persepsi bangsa lain tentang bangsa kita? Dari kecil saya selalu mendapat cerita kalau orang luar negeri itu menganggap kita sebagai bangsa yang ramah. Masalahnya yang cerita itu orang Indonesia juga, jadi darimana kita bisa mengetes kevalidannya? Lagipula seandainya ada orang luar negeri yang bilang bangsa kita ramah, suka gotong royong dan lain sebagainya, bisa jadi dia bilang begitu karena mereka tahu kalau kita tuh suka dipuji dan suka kalau kita dibilang ramah sama orang luar negeri. Hehehehe.

Akhirnya saya pun membuka buka situs http://www.commisceo-global.com/country-guides/indonesia-guide. Situs ini berisi petunjuk cara menghadapi orang Indonesia. Pas saya baca memang banyak hal menarik ya, yang membuat kita sadar kalau sesuatu yang dianggap lumrah sama kita itu dianggap aneh sama orang luar negeri. Contohnya ini

Jam Karet” (rubber time) describes the Indonesian approach to time. Things are not rushed as the attitude is that everything has its time and place. Time does not bring money, good relations and harmony do.

Hahaha, kengaretan bangsa indonesia sudah terkenal seantero jagad rupanya.

Tapi ada satu pernyataan yang menggelitik saya, yaitu :

One manifestation of the concept of face/shame is that Indonesians communicate quite indirectly, i.e. they would never wish to cause anyone shame by giving them a negative answer so would phrase it a way where you would be expected to realise what they truly want to say.. Bahasa Indonesian actually has 12 ways of saying “No” and several other ways of saying “Yes” when the actual meaning is “No” !!

12 cara menjawab tidak??? Dan beberapa cara mengatakan ya walaupun artinya tidak???
Saya pun mencoba menggoogle, sebenarnya 12 caranya itu apa saja. Dan saya tidak menemukannya. . Dan percaya deh, situs yang bilang kalau orang Indonesia punya 12 cara menjawad tidak bukan di link yang di atas saja. Ada beberapa situs lainnya yang juga menyatakan bahwa indonesia punya banyak cara untuk berkata tidak.

Saya pun mencoba melist 12 kata yang artinya tidak. Sebenarnya kata-kata yang dilist tidak murni bersinomim dengan tidak, tapi saya  kesulitan menemukan kata-kata yang murni bersinomim dengan tidak.

Tidak : saya tidak suka kamu

Nggak : Saya nggak suka kamu

Tak : Saya tak suka kamu

Kagak : Saya kagak suka sama kamu

larang : Saya melarang diri saya untuk suka sama kamu

Tiada : Saya tiada memiliki perasaan suka sama kamu

Entah : Saya suka sama kamu? entahlah

Jangan : Saya jangan sampai suka sama kamu

Tauk : Suka sama kamu??? Tauk ah gelap

Kurang : Saya kurang suka sama kamu.

Belum : Saya belum bisa suka sama kamu

Embargo : Saya mengembargo diri saya dari perasaan suka sama kamu

Nir : Saya nirsuka sama kamu

Restriksi  : Saya merestriksi diri saya dari perasaan suka sama kamu

Anti : Saya anti merasa suka sama kamu

Haram : Haram saya suka sama kamu.

OK, dapet 16 kata. Sebagian besar  maksa sih, hehehe.

Lalu Saya mencoba mencari kalimat di mana kita bilang ya padahal artinya tidak.

Ya siiiiih…,

Mungkin

Bisa jadi

Lihat nanti yaaa..

ehmmm, pikir pikir dulu deh

Kalau sempat yaaa

Jangan sekarang ya, entar aja

Hmmmm, gimana ya, ga janji deh.

Untuk kalimat kalimat seperti itu jadi agak susah karena memang membutuhkan ekspresi dan konteks saat kalimat itu dilontarkan. Tapi saya rasa  orang indonesia itu memang cenderung analog…

It was a Saturday morning when I rode my motorcycle to the place where ITP toefl held. I stopped at the bakery store named Holland bakery to buy several breads. I planned to eat all of these breads before I took the test. But I reached the LTI exactly several minutes before the test was started. So, it was rather impossible for me to eat those breads. And then I search another way to make me not feeling hungry during the test. That’s why when the tutor (somebody who gave us chit chat explanation about how to do the test in a proper way, I named her a tutor because I couldn’t find the exact word, sigh) spoke in front of the class, I asked her, “madam, could I eat and drink something during the test?”

“ I am sorry sir, but the only things that you can bring during the test are pencil and eraser, you have to put your bag here in this room before you go upstairs”

OMG. So I can imagine that when I do the test, my stomach would be very empty, and there is nothing that I can do about that. (except eating the eraser, and for sure, I am not that desperate) But why do I have this strange imagination that we can eat during the test? Where did that information came from? But honestly, I am not pretty sure that I have got that information before. Perhaps, only my imagination? As usual.

“even candy?” I asked her again, I brought some candies because it would be a wonderful idea If I could put something sweet in my mouth while thinking so hard to answer all of the questions in this toefl test,”

“no sir, not even candy..”

So, I went to the room upstairs with an empty stomach and left a bag full of breads, nu green tea. And candies. Damn it.

The tutor explains so many things and I started to get nervous. Easy boy, easy, this is perhaps your first experience of taking the ITP toefl but you have experiences of abal abal Toefl test before this. Those Toefl abal abal that you took 6 years ago must be very helpful. Besides, what is the difference between toefl abal abal and ITP toefl other than you have to pay 350.000 rupiahs for this ITP toefl. Wait a moment, what could you do with 350,000? Having lunch in hanamasa twice in a row? 250 GB external HD full of movie?FULL OF MOVIE? Imagine that I just could watch those movie. But now you choose to be tortured like this. Doing an ITP test like this. 350,000 ??OMG.

And the nervous could only get worse.

And when the tutor told us to break the seal, I tried so hard to break it. The glue was very strong. But why every other person in this room can easily open the book? Do they have superhuman strength that made them open the seal in a very easy manner. Maybe I make the wrong approach to break the seal, maybe…

All of sudden, something pop up in my mind. And then I opened the book and the seal was broken automatically.

Stupid me.

Ok. The listening part. I thought I did very well. The second part, structure and blab la bla, I thought that It went smoothly. It was kinda surprising that I could stay very calm and collected. And then I reached the third part..and the nerve problem strikes back.

Oh God, I pray so hard to keep my sanity level as high as possible. The problem was that I have to read the passages before answering the question. It was certainly a different pace from the section before. In structure and listening, every 5 seconds I can circle the answer using my precious 2 B pencil. In this part I have to read, and every time I wasted the time because I have to read the passage, My heart beats anxiously. I close my eyes, catching my breath, and try so hard to push my temptation to go out from this room and runaway. Thank God it was prohibited to leave the room because perhaps I would waste my time to go to toilet and wash my face if leaving the room during the toefl test was allowed.

But finally, I could control my nerve, after I could finish answering all the questions. I checked several of my answers before time was running out. After grabbed a snack box, I went back to mal ciputra to eat nasi tongseng sapi and a cup of hot tea.

The results was released exactly ten days after the test. The score was below my expectation but still above 600. Surprisingly, My best score comes from the third section, reading. And I expect that the third section would be the lowest one. The grammar section, OMG. I can play a game named, Find which one who doesn’t belong based on the score. It is a gift from God that grammar section is no longer available in IBT Toefl. Vanished and no need to be resurrected.

And then, all of sudden something come into my mind. The reason why my reading score became the highest one, no matter how nervous my condition at that time, and no matter that I felt so not confident doing the reading section, is because this section is the only section that makes me pray to God.